Menu

Dark Mode
Mumun : Jangan Ulangi Kesalahan Lama! DPRD Karawang Warning Seleksi Dirut Petrogas Retribusi dan Pendangkalan Dikeluhkan Nelayan, DPRD Tampung Aspirasi Nelayan untuk Perbaikan Kedepan Pasar Johar Disiapkan Jadi Senjata Baru Tekan Inflasi di Karawang Evaluasi Total Pengelolaan Pasar Cikampek I, PT Celebes Harus Tanggung Jawab PKS Siap Jadi Mitra Strategis KPU dalam Menjaga Proses Demokrasi Tetap Jujur, Adil, dan Kondusif MILAD PKS ke-24 Merupakan Panggilan Moral dan Gerakan Kolektif untuk Membangun Kemandirian Bangsa

Berita · 7 Jul 2024 17:07 WIB · Reading Time

DPRD Karawang Tempo Doeloe

Eerste vergadering van de regentschapsraad van Krawang ten oosten van Batavia
Shelfmark. (Dewan Pemerintahan Daerah Karawang Tahun 1926, semacam DPRD jaman kini)

fpkskarawang.id – Pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan oleh rakyat, namun hal itu termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga pribumi/warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya..

Dewan pemerintahan daerah hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Banyak hal menarik, jika melihat Dewan Pemerintah Daerah di wilayah Karawang – Seperti terlihat di foto : Warga Belanda berpakaian Barat; dan tanpa tutup kepala. Sedangkan warga lokal Karawangnya memiliki keanekaragaman pakaian. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Sementara itu warga yang mendapat pendidikan Barat mengenakan pakaian ala Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala.

Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional.

Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu, tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

 

Kontributor : Asep R. Sundapura (Relawan Kebudayaan, Founder Ekraf Karawang, Ketua Karawang Heritage Community, Owner Sundapura Digital, Kreator Sundapura, Owner Sundapura Business, Founder Karawang Creative Economic Forum, Founder Lembaga Kajian Kebudayan)

Facebook Comments Box

This article has been read 38 time

badge-check

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mumun : Jangan Ulangi Kesalahan Lama! DPRD Karawang Warning Seleksi Dirut Petrogas

6 May 2026 - 14:39 WIB

Retribusi dan Pendangkalan Dikeluhkan Nelayan, DPRD Tampung Aspirasi Nelayan untuk Perbaikan Kedepan

5 May 2026 - 09:55 WIB

Pasar Johar Disiapkan Jadi Senjata Baru Tekan Inflasi di Karawang

4 May 2026 - 09:43 WIB

Evaluasi Total Pengelolaan Pasar Cikampek I, PT Celebes Harus Tanggung Jawab

30 April 2026 - 16:18 WIB

PKS Siap Jadi Mitra Strategis KPU dalam Menjaga Proses Demokrasi Tetap Jujur, Adil, dan Kondusif

29 April 2026 - 17:35 WIB