Menu

Dark Mode
Sanksi Kurungan Dirubah Jadi Denda di Perubahan Perda Trantibum Halal Bihalal Penting untuk Merajut Ukhuwah, Menjaga Soliditas Kader dan Perjuangan Politik yang Berorientasi pada Kemaslahatan Mumun : Layanan Parkir Berlangganan Baru Sekedar Uji Coba Ketua Fraksi PKS Karawang Hadir Menguatkan, Jenguk Korban Tragedi Maut Majalengka Aksi Kemanusiaan Jitang di Tragedi Majalengka Mendapatkan Apresiasi dari Tokoh Masyarakat Karawang Jitang Sigap Bantu Korban Kecelakaan Maut di Majalengka di Tengah Mudik Lebaran

Rubrik Pembaca · 7 Jul 2024 16:38 WIB · Reading Time

Mengenang Kebesaran Siliwangi, Raja Pajajaran yang Pernah Berkunjung ke Karawang

fpkskarawang.id – Prasasti Batutulis Bogor adalah sebuah prasasti peninggalan abad ke-16 dari jaman kerajaan Pajajaran yang letaknya di tepian Jalan Batutulis, persis di depan Istana Batutulis, Bogor. Prasasti Batutulis Bogor disimpan di dalam sebuah bangunan persegi empat berukuran sekitar 5 x 5 meter di atas tanah seluas 255 meter persegi.

Prasasti Batu Tulis bertuliskan : Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan. Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka “Panca Pandawa Mengemban Bumi”.

Hutan Samida yang disebut di dalam Prasasti Batutulis Bogor diduga berada di tempat yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor. Sedangkan sangkala “Panca Pandawa Mengemban Bumi” berarti 5541, jika dibalik adalah 1455 Saka (1533 Masehi).

Prasasti Batutulis berdiri setinggi 151 cm, dengan lebar dasar 145 cm dan ketebalan antara 12-14 cm. Di dekatnya ada sebuah lingga, batu lonjong yang melambangkan kesuburan pria, setinggi Prasasti Batutulis Bogor. Ada pula sebuah batu tegak yang terletak agak terpisah yang diduga digunakan sebagai tempat bersandar.

Di depan batu Prasasti Batutulis Bogor yang besar, terdapat sebuah tengara Batu Tapak berukuran kecil dengan lekukan dua telapak kaki seukuran orang dewasa yang diduga milik Prabu Surawisesa, Raja ke-2 dari Kerajaan Pakuan Pajajaran yang memerintah saat Prasasti Batutulis Bogor dibuat, dan sebuah batu berukuran lebih kecil lagi dengan lekukan lutut di atasanya.

Penelitian terhadap tulisan pada Prasasti Batutulis Bogor mulai dilakukan sejak tahun 1806 dengan pembuatan cetakan tangan untuk Universitas Leiden, Belanda. Sedangkan upaya pembacaan prasasti pertama dilakukan oleh Friederich pada tahun 1853.

Catatan sejarah tentang Prasasti Batutulis Bogor pertama kali dibuat oleh Scipio, yang melakukan ekspedisi ke daerah sekitar Bogor diantar oleh penduduk Kedunghalang dan Parung Angsana. Scipio membuat laporan kepada Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs yang ditulis pada 23 Desember 1687 dan menyebutkan bahwa puing istana Pajajaran, terutama tempat duduk raja, dikerumuni dan dirawat oleh sejumlah besar harimau. Diduga dari sinilah muncul mitos bahwa pasukan Pajajaran telah berganti wujud menjadi harimau.

Di halaman sebelah kiri cungkup Prasasti Batutulis Bogor terdapat dua buah batu mirip nisan yang tertancap di atas sebuah gundukan mirip kuburan, yang diduga sebagai tempat menambatkan tali kekang kuda.

Cungkup bangunan kecil yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan Prasasti Batutulis Bogor dan beberapa buah batu kuno lainnya.

Prasasti Batutulis Bogor ini merupakan salah satu petunjuk tentang keberadaan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran yang berumur hampir satu abad itu (97 tahun).

 

Kontributor : Asep R. Sundapura (Relawan Kebudayaan, Founder Ekraf Karawang, Ketua Karawang Heritage Community, Owner Sundapura Digital, Kreator Sundapura, Owner Sundapura Business, Founder Karawang Creative Economic Forum, Founder Lembaga Kajian Kebudayan)

Facebook Comments Box

This article has been read 65 time

badge-check

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Produksi Padi Karawang 2 Juta Ton per Tahun, Mungkinkah?

30 July 2024 - 21:00 WIB

RESI GUDANG, Upaya untuk Mengatasi Harga Komoditi Pertanian yang Anjlok pada Musim Panen Raya

9 July 2024 - 08:56 WIB

Memory of Karawang Creative Economy Forum

8 July 2024 - 12:56 WIB

Titik Nol Karawang Apakah Perlu Diperjuangkan Kembali?

7 July 2024 - 17:52 WIB

DPRD Karawang Tempo Doeloe

7 July 2024 - 17:07 WIB