Menu ✖

Dark Mode
Agus Sulistyo: Setelah Jalan di COR Agar Dijaga dan Dirawat sehingga Manfaatnya Dapat Dirasakan dalam Jangka Panjang Ambulans Alami Pecah Ban, Jitang Pastikan Korban Lakalantas di Gintungkerta Tetap Mendapatkan Penanganan Medis Karawang Butuhkan Sistem Pertanian yang Kuat dan Regenerasi Petani yang Berkelanjutan Warga Kalanasem, Pagadungan, Tempuran Apresiasi Aspirasi Rutilahu H. Imron Dewan PKS Karawang Milangkala Karawang ke-393, Pemkab Karawang Harus Perhatikan Nasib Petani, Pekerja hingga Pelaku Wisata Agus Sulistyo Hadiri Ramah Tamah dan Tasyakuran Warga Kondang Jaya atas Realisasi Aspirasi Pengecoran Jalan

Rubrik Pembaca · 7 Jul 2024 09:15 WIB · Reading Time

Palawaga

 

Foto : Fragmen Kabuyutan Cibulan, Cirebon 1912

fpkskarawang.id – Kita menyebut orang di luar Islam dengan istilah kafir atau non muslim. Kristen memberi istilah non kristen dengan istilah domba tersesat. Setiap keyakinan spiritual memiliki terminologi atau istilah khusus untuk menyebut golongan di luar diri mereka.

Pada masa Kerajaan Pajajaran, muncul istilah Palawaga. Istilah ini tidak akan kita temui di internet, ChatGPT, ataupun naskah dan jurnal penelitian para ahli. Istilah Palawaga hanya akan kita temukan dalam tradisi lisan Sunda Buhun.

Palawaga adalah istilah yang dipakai oleh para penyerbu dari Cirebon dan Demak untuk menyebut Rakyat Pajajaran. Mereka menyebut demikian karena di mata mereka, Orang Pajajaran tak beda Bangsa Palawa : menyembah dewa dan hidup seperti halnya penganut agama Hindu.

Istilah Palawaga masih berakar pada orang jaman sekarang, yaitu saat mereka tidak bisa membedakan apa sebenarnya agama orang Pajajaran. Banyak yang menyebut Hindu, seperti halnya para penyerbu dari Demak dan Cirebon ratusan tahun lalu.

Orang Pajajaran sendiri, dengan rasa tersakiti, sebetulnya menolak sebutan istilah Palawaga. Karena bagi mereka, keyakinan spiritual Pajajaran tidak sama dengan Hindu. Namun, sejarah dibuat oleh pemenang. Selama ratusan tahun, Pajajaran tetap dianggap sebagai penganut Hindu.

Dari alam kahiyangan, ribuan Orang Pajajaran mencoba bersuara dalam senyap : “Kami Pajajaran penganut Jatisunda, bukan pemeluk agama Hindi ataupun Palawaga”.

Tapi, apa mau dikata….

 

Kontributor : Asep R. Sundapura (Relawan Kebudayaan, Founder Ekraf Karawang, Ketua Karawang Heritage Community, Owner Sundapura Digital, Kreator Sundapura, Owner Sundapura Business, Founder Karawang Creative Economic Forum, Founder Lembaga Kajian Kebudayan)

Facebook Comments Box

This article has been read 19 time

badge-check

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Produksi Padi Karawang 2 Juta Ton per Tahun, Mungkinkah?

30 July 2024 - 21:00 WIB

RESI GUDANG, Upaya untuk Mengatasi Harga Komoditi Pertanian yang Anjlok pada Musim Panen Raya

9 July 2024 - 08:56 WIB

Memory of Karawang Creative Economy Forum

8 July 2024 - 12:56 WIB

Titik Nol Karawang Apakah Perlu Diperjuangkan Kembali?

7 July 2024 - 17:52 WIB

DPRD Karawang Tempo Doeloe

7 July 2024 - 17:07 WIB