
Foto : Fragmen Kabuyutan Cibulan, Cirebon 1912
fpkskarawang.id – Kita menyebut orang di luar Islam dengan istilah kafir atau non muslim. Kristen memberi istilah non kristen dengan istilah domba tersesat. Setiap keyakinan spiritual memiliki terminologi atau istilah khusus untuk menyebut golongan di luar diri mereka.
Pada masa Kerajaan Pajajaran, muncul istilah Palawaga. Istilah ini tidak akan kita temui di internet, ChatGPT, ataupun naskah dan jurnal penelitian para ahli. Istilah Palawaga hanya akan kita temukan dalam tradisi lisan Sunda Buhun.
Palawaga adalah istilah yang dipakai oleh para penyerbu dari Cirebon dan Demak untuk menyebut Rakyat Pajajaran. Mereka menyebut demikian karena di mata mereka, Orang Pajajaran tak beda Bangsa Palawa : menyembah dewa dan hidup seperti halnya penganut agama Hindu.
Istilah Palawaga masih berakar pada orang jaman sekarang, yaitu saat mereka tidak bisa membedakan apa sebenarnya agama orang Pajajaran. Banyak yang menyebut Hindu, seperti halnya para penyerbu dari Demak dan Cirebon ratusan tahun lalu.
Orang Pajajaran sendiri, dengan rasa tersakiti, sebetulnya menolak sebutan istilah Palawaga. Karena bagi mereka, keyakinan spiritual Pajajaran tidak sama dengan Hindu. Namun, sejarah dibuat oleh pemenang. Selama ratusan tahun, Pajajaran tetap dianggap sebagai penganut Hindu.
Dari alam kahiyangan, ribuan Orang Pajajaran mencoba bersuara dalam senyap : “Kami Pajajaran penganut Jatisunda, bukan pemeluk agama Hindi ataupun Palawaga”.
Tapi, apa mau dikata….
Kontributor : Asep R. Sundapura (Relawan Kebudayaan, Founder Ekraf Karawang, Ketua Karawang Heritage Community, Owner Sundapura Digital, Kreator Sundapura, Owner Sundapura Business, Founder Karawang Creative Economic Forum, Founder Lembaga Kajian Kebudayan)

















Leave a Reply